Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Mata Air Lereng Semeru

Posted by Badrut Tamam on Jul 26, '08 8:06 AM for everyone

Bangsa cina memang fenomenal, penghuni cina daratan dan cina perantauan yang tersebar diseluruh penjuru dunia telah membentuk sebuah komunitas terbesar dari jumlah populasi dunia, menariknya lagi sebagai bangsa besar yang berperadaban tinggi dan agung. Dimanapun orang cina berada, ia takkan pernah bisa dipisahkan dengan identitas budaya yang kuat dan tradisi niaga yang telah mendarah daging.

Kini setelah masyarakat cina modern tersebar maka secara perlahan - lahan terjadi proses pembaruan dan pembauran dengan tingkatan yang berbeda. Kini komunitas cina modern menjadi penganut beragam agama dan kepercayaan namun yang membanggakan simbol - simbol budaya dan tradisi leluhur menjadi sebuah simpul perekat diantara mereka sehingga secara sadar mereka berusaha melestarikannya dari masa ke masa.
Setidaknya sekali dalam setahun warga etnis tionghoa menggelar pesta rakyat tahun baru cina yang dirayakan dengan berbagai gelar budaya yang menampilkan sejumlah kesenian khas negeri naga seperti pawai lampion, barongsai atau liang liong dalam gebyar warna merah yang dominan dan salam khas yang kian akrab terdengar di telinga kita “GONG XI FAT CAI”

Jejak Kyai Kuning

Negeri Cina ternyata tidak hanya terkenal di mancanegara sebagai negeri kuning dengan sungai kuning (Hwang Ho), jika dilihat sejarah penyebaran agama Islam di nusantara maka peran penganjur - penganjur agama Islam dari negeri tiongkok patut dikedepankan, merekalah yang kemudian disebut oleh orang - orang pribumi atau masyarakat jawa sebagai kyai kuning.

Jejak kyai kuning sangat terlihat pada beberapa aristektur masjid tua dan bersejarah yang mengadopsi arsitektur khas negeri tiongkok dan memadukannya dengan arsitektur lokal dan timur tengah. Masjid Jami’ Sumenep dan Asta tinggi yang monumental sebagai makam raja - raja sumenep memperlihatkan jejak - jejak peninggalan kyai kuning dalam pembangunan peradaban Islam.

Cerita tentang kyai kuning ini tidaklah lengkap tanpa menyebutkan seorang  bahariwan agung Laksamana Cheng Hoo yang memimpin pelayaran muhibah sebanyak tujuh kali antara tahun 1405 hingga 1433 dan mengunjungi 30 negara di rantau melayu, Asia Selatan dan Timur Tengah. Cheng Hoo dan armadanya diyakini oleh banyak sejarawan dunia mempunyai andil yang besar dalam penyebaran agama Islam di semenanjung melayu termasuk di Pulau Jawa dan Sumatera. Dalam Perjalanannya ke Jawa Timur yang bertepatan pada hari Jum’at, Cheng hoo  didaulat sebagai Kyai Kuning yang berkhutbah di hadapan ratusan warga surabaya, diriwayatkan pula bahwa armada cheng hoo juga mentransformasikan beberapan kemahirannya di berbagai disiplin ilmu seperti perikanan, pertanian, peternakan dan pertukangan.

Kisah Heroik Kyai Kuning dalam syiar agama Islam adalah kepeloporan Pangeran Jin Bun putra prabu Brawijaya (1453 - 1478) dari seorang selir berdarah cina yang dalam beberapa catatan sejarah disebutkan beragama Islam. Pangeran Jin Bun yang beragama Islam diberi kedudukan sebagai Bupati Demak yang bergelar Raden Patah. Dari Demaklah gerakan reformasi sang kyai kuning di mulai. Raden Patah melihat kebesaran majapahit hanyalah semu belaka sebab persatuan dalam negeri melemah sementara penyebaran agama Islam di Pantai Utara dan Pesisir Timur Pulau Jawa sudah demikian meluasnya yang dipelopori oleh pedagang - pedagang tiongkok yang sebagian besar beragama Islam dan dukungan dari para sunan yang terkenal sebagai wali sembilan (wali songo).  Pada sekitar tahun 1500 M, Raden Patah/Jin Bun/R. Bintoro yang memerintah di Demak, secara terbuka memutuskan ikatan dari Majapahit yang sudah tidak berdaya lagi, dan atas bantuan daerah-daerah lain yang telah Islam antara lain Gresik, Tuban dan Jepara, Raden Patah mendirikan Kesultanan Islam yang berpusat di Demak.Dari Demaklah cita - cita Kyai Kuning untuk penyebaran dan pengembangan Syiar Islam dimulai dan Dari Demaklah Kebangkitan Islam pada mulanya disuarakan dan diperjuangkan hingga ke penjuru nusantara.

Kyai Kuning Dan Masjid Mohammad Chengho

Selain Jejak Perjuangan Kyai Kuning ternyata terdapat sejumlah tapak sejarah yang tersisa seperti kronik bersejarah kerajaan nusantara, peta , benda kuno juga bangunan bercorak arsitektur cina seperti kampung pecinan, klenteng, makam, masjid hingga istana.

Gerbang Utama Masjid Jamik Kota Sumenep,

Paduan Arsitektur multi etnik yang menawan

Di tengah Kota Pahlawan Surabaya, PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) berhasil merealisasikan pembangunan Masjid Laksamana Muhammad Cheng hoo sebagai monumen atas dakwah chengho sekaligus sebagai sumbangsih nyata etnis tionghoa bagi kemajuan peradaban nusantara.

Program utama PITI diarahkan untuk menyampaikan dakwah Islam, khususnya kepada masyarakat Tionghoa. Caranya dengan melakukan pembinaan dalam bentuk bimbingan menjalankan syariat Islam di lingkungan keluarga yang masih non-Muslim. Kemudian persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan serta pembelaan dan perlindungan bagi mereka yang karena masuk Islam, namun bermasalah dengan keluarga dan lingkungannya.

PITI juga mengadakan pengajian rutin untuk membina para muallaf. Masih dalam rangka pembinaan, PITI menerbitkan Juz ‘Amma berbahasa Mandarin dan buku tuntunan berjudul “Tuntunan bagi Saudara Baru” yang berisi tata cara shalat dan surat-surat pendek al-Qur’an (Juz ‘Amma). Semuanya ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Mandarin dan Indonesia. Buku ini dimaksudkan untuk memberi inspirasi warga etnis Tionghoa agar masuk Islam. Penerbitnya adalah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo (YHMCH), sebuah yayasan yang didirikan oleh PITI.

Kyai Kuning , gerakan pembaruan dan pembauran

Dua Lagi Kyai Kuning yang mempunyai andil cukup besar bagi gerakan pembaruan dan pembauran di kalangan masyarakat etnis tionghoa adalah Haji Abdul Kariem Oei Tjeng Hien dan Haji Yunus Yahya alias Lauw Chuan Tho.

Bapak Karim Oei (1905-1988) masuk Islam ditahun 30-an dan akrab sekali dengan Presiden Soekarno dan Buya Hamka. Beliau seorang tokoh Muhammadiyah dan pionir dakwah, pejuang kemerdekaan, muslim yang taat dan sukses di bidang ekonomi.

Haji Kariem Oei dikenal sebagai tokoh pembaruan dan pembauran yang begitu istimewa dihati saudara kita etnis tionghoa baik yang muslim maupun yang non muslim, untuk meneruskan jejak perjuangannya maka Haji Yunus Yahya kemudian mendirikan Yayasan Haji Kariem Oei  pada tanggal 9 April 1991 dengan mengontrak ruko di Jalan Lautze 87-89 Pasar Baru, Jakarta Pusat. Yayasan ini kemudian menghimpun jamaah muslim dari etnis tionghoa dan masyarakat sekitar dan mendirikan sebuah masjid sebagai pusat Syiar Islam yang kemudian dikenal sebagai Masjid Lautze. Lokasi gedung Yayasan Kariem Oei dan Masjid Lautze yang memang terletak di area Pecinan (China town) memudahkan warga keturunan memperoleh informasi tentang Islam walhasil kini mesjid ini sudah mengislamkan 1000-an keturunan Tionghoa. Hebatnya, masjid tidak pernah mengajak apalagi memaksa, hanya menyediakan informasi tentang Islam.

Pilihan menjadi muslim dan muslimah memang menjadi salah satu gerakan pembaruan dan pembauran etnis tionghoa, hal ini dipertegas dengan penyataan Haji Yunus Yahya :

"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat."

Jejak Kyai Kuning dalam gerakan pembaruan dan pembauran sesungguhnya bisa menjadi inspirasi yang menumbuhkan kesadaran sebagai anak bangsa untuk bangkit dan bersatu dalam membangun satu negeri INDONESIA.

(Ditulis Oleh :  Badrut Tamam Gaffas)


Special Promo : Kerja Keras Adalah Energi Kita


18 CommentsChronological   Reverse   Threaded
pomponk wrote on Jul 26, '08
Terima kasih pak,
udah nambah wawasan tentang sejarah islam indonesia.
dhy88 wrote on Jul 26, '08
Tapi aneh ya, knp cheng ho dijadiin nama klenteng jg??
anyway, syukron infonya.. ^^
badruttamamgaffas wrote on Jul 26, '08
pomponk said
Terima kasih pak,
udah nambah wawasan tentang sejarah islam indonesia.
Etnis Tionghoa memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah pergerakan modern di Indonesia, saya sedang mendalami sejarah syiar islam di kalangan etnis tionghoa, jika ada informasi lain silahkan saudaraku kasih info dan masukan yang insyaallah akan sangat membantu. Terimakasih.
badruttamamgaffas wrote on Jul 26, '08, edited on Jul 26, '08
dhy88 said
Tapi aneh ya, knp cheng ho dijadiin nama klenteng jg??
anyway, syukron infonya.. ^^
Cheng ho yang seorang bahariwan dan pejuang muslim memang begitu melegenda dan dibanggakan oleh khususnya saudara kita etnis tionghoa baik yang muslim maupun yang non muslim, inilah titik temu untuk lebih mengenalkan jejak dakwah cheng hoo dan mendekatkan syiar Islam kepada komunitas tionghoa secara keseluruhan.
pomponk wrote on Jul 26, '08
Etnis Tionghoa memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah pergerakan modern di Indonesia, saya sedang mendalami sejarah syiar islam di kalangan etnis tionghoa, jika ada informasi lain silahkan saudaraku kasih info dan masukan yang insyaallah akan sangat membantu. Terimakasih.
Wah maaf pak, saya "buta" tentang sejarah entis tionghoa di negri ini.
dewiekha321 wrote on Jul 26, '08
nice article , tks 4 sharing
ibnubakri wrote on Jul 26, '08
Kiyai Kuning punya peran juga ternyata...
disamping memang, sebelumnya pedagang dari arab juga sudah menanamkan nilai2 islam di tanah air kita...

syukran mas badrut Tamam..jazakmuLlah atas infonya...
zulfigitu wrote on Jul 27, '08
Subhanllah,ini jg mkn membuktikan bgitu beragamnya bangsa yg berperan dlm penyebaran Islam di nusantara.

Oh ya, mhn maaf apa bnr kl cheng ho dan pasukannya (maaf) 'dikebiri'?katanya biar SMGT juangnya menggebu2.
ginasari wrote on Jul 27, '08
Ketika hati sudah satu frequensi, yaitu frequensi ilahiyah... maka warna kulit menjadi tak masalah lagi...Terima kasih pencerahannya, Mas Badrut Tammam. Saya juga baru menyelesaikan membaca novel sejarah ditulis oleh Tasaro, Samita. Sepak Terjang Hui Sing, Murid perempuan Ceng Ho.. Bagaimana Sang Guru disamping melatih ilmu bela diri linuhung, juga konsisten mengajari alQur'an.. Disajikan dengan brilian dan cantik.
s4bil wrote on Jul 28, '08
Saya ada tetangga seorang tionghoa yg baru masuk islam, tulisan ini bisa jadi bahan sharing dengannya. Terimakasih..
badruttamamgaffas wrote on Jul 29, '08
tks 4 sharing
tks 4 apreciating...diharap jg masukannya
badruttamamgaffas wrote on Jul 29, '08
Kiyai Kuning punya peran juga ternyata...
disamping memang, sebelumnya pedagang dari arab juga sudah menanamkan nilai2 islam di tanah air kita...
Benar, karena kesungguhan dalam menyampaikan Risalah Ilahiah dari pejuang - pejuang dakwah dari (jazirah arabia, tiongkok, jazirah hindustani, rusia, dll) akhirnya kita bisa mengenal Dienul Haq, Sebuah Nikmat yang Sungguh teramat besar, Alhamdulillahi Rabbil Alamin...
badruttamamgaffas wrote on Jul 29, '08
Oh ya, mhn maaf apa bnr kl cheng ho dan pasukannya (maaf) 'dikebiri'?katanya biar SMGT juangnya menggebu2.
Sebagian informasi memang ada mengatakan demikian utamanya dari kalangan prajurit tapi sepertinya tradisi tersebut tidak berlaku juga bagi pengikut ekspedisi chengho yang dari kalangan diluar prajurit. Kita memang perlu data dan bukti yang lebih lengkap dan akurat dalam membahas ini. Trims atas info dan masukannya
badruttamamgaffas wrote on Jul 29, '08
Ketika hati sudah satu frequensi, yaitu frequensi ilahiyah... maka warna kulit menjadi tak masalah lagi
Subhanallah, ini baru kata-kata bijak dan mutiara.
Trimakasih saudariku atas info tentang novel Samita, semoga bisa menjadi bahan tambahan untuk melengkapi tulisan ini.
badruttamamgaffas wrote on Jul 29, '08
s4bil said
Saya ada tetangga seorang tionghoa yg baru masuk islam, tulisan ini bisa jadi bahan sharing dengannya.
Semoga.
Ditunggu juga masukannya..terimakasih.
nugon19 wrote on Aug 4, '08
Bagus artikelnya. Mungkin Mas Badru bisa tambahkan info lagi ttg Chengho dgn lebih detail.

Karena dengar2, bulan Mei yg lalu ada Seminar Internasioal peringatan 600 thn Laksamana Chengho (Zhenghe), mungkin ada paparan bukti sejarah terkait yg menarik utk diulas disini.

Juga gegap gempita pembuatan film seri Laksamana Chengho (cuma yg jadi Laksamana Chengho nya kok Yusril Ihza Mahendra, ane berandai bila yg main itu langsung Chinese Muslim dari Cina Daratan, akan lebih menarik. Tidak ada masalah dgn Yusril, namun daya tarik utk orang Tionghoa agak kurang).

Terkait klenteng Chengho yg tadinya Masjid, itu adalah akibat kurangnya perhatian pembinaan Islam pd keturunan Tionghoa pd masa lalu, ditambah kombinasi politik Hindia Belanda yg menjauhkan Indonesia dari komunikasi dgn pendatang yg Muslim, baik dari Arab (Timur Tengah) maupun Cina (Timur Jauh)...juga dipercepat laju konversinya dgn tradisi orang Tionghoa yg sangat menghormati leluhur bahkan sampai taraf mendewakannya.

3 Kombinasi ini yg menyebabkan akhirnya masjid Chengho terkonversi menjadi Klenteng. Natural, namun miris buat yg Muslim, apalagi yg Muslim Tionghoa.

Demikian sedikit opini dari ane, semoga berkenan.

Wassalam,



Nugroho Laison (nugon)
badruttamamgaffas wrote on Aug 11, '08
nugon19 said
Terkait klenteng Chengho yg tadinya Masjid, itu adalah akibat kurangnya perhatian pembinaan Islam pd keturunan Tionghoa pd masa lalu, ditambah kombinasi politik Hindia Belanda yg menjauhkan Indonesia dari komunikasi dgn pendatang yg Muslim, baik dari Arab (Timur Tengah) maupun Cina (Timur Jauh)...juga dipercepat laju konversinya dgn tradisi orang Tionghoa yg sangat menghormati leluhur bahkan sampai taraf mendewakannya.

3 Kombinasi ini yg menyebabkan akhirnya masjid Chengho terkonversi menjadi Klenteng. Natural, namun miris buat yg Muslim, apalagi yg Muslim Tionghoa.
terimakasih bang nugroho atas masukannya, salam sukses untuk abang !!!
gphagiant wrote on Oct 13, '08
keren...

*maaf sekrianya lancang, terima kasih dah boleh ninggalin jejak disini...
Add a Comment